Menumbuhkan Sense of Competence pada Anak

by
Sense of Competence
via google

Salah satu tahapan perkembangan anak yang harus menjadi perhatian bunda adalah menumbuhkan sense of competence pada diri anak. Bunda perlu menumbuhkan pada diri anak kepercayaan akan kemampuan dirinya. Yakinkan anak bahwa dia mampu melakukan sesuatu yang hebat, menaklukkan tantangan, dan memecahkan masalah.

Berdasar pengamatan saya di lapangan mengelola sekolah gratisuntuk anak-anak dhuafa, ada fenomena anak-anak under achiever.Maksudnya, anak-anak yang sebenarnya secara potensi, dia mestinya bisa berkembang dan berprestasi melebihi apa yang dicapainya saat ini. Mengapa bisademikian? Hal ini karena anak tersebut tidak mendapatkan stimulus yang bisamengembangkan kemampuannya. Malah sebaliknya, stimulus yang menjatuhkanperasaan mampu (sense of competence) dalam dirinya.

Keluarga para dhuafa pada umumnya kurang memberikan apreasiasi danpenguatan pada anak saat anak meraih suatu prestasi. Hal itu dianggap biasasaja. Terlebih jika si anak memang tidak memiliki prestasi apapun. Pada saatyang sama tidak ada dorongan semangat dari orangtuanya. Tidak ada motivasi dari orangtuanya yang meyakinkan bahwa dia bisa meraih prestasi dan pencapaian membanggakan. Akibatnya, anak menilai dirinya bukan siapa-siapa.

Inilah terkadang kesalahan orangtua. Orangtua kurang aware untuk menumbuhkan sense of competence pada diri anaknya. Ketika anak melakukan kesalahan, dimarahi habis-habisan, bahkan dihukum secara berlebihan. Namun, saat anak melakukan kebaikan atau meraih suatu prestasi, tidak ada pujian, apresiasi, dan penguatan. Orangtua merasa itu biasa saja. Memang itulah yang semestinya dilakukan seorang anak. Padahal, anak membutuhkan pujian, apreasiasi, dan penguatan dari orangtuanya untuk mengembangkan sense of competence dalam dirinya.

Anak yang sense of competen-nya tidak berkembang dengan baik, cenderung akan menjadi anak yang minder dan rendah diri. Karena, perasaan diri mampu dan berharganya tidak tumbuh dengan baik. Efek negatif selanjutnya, anak akan mengembangkan pola perilaku bermasalah, yang disebut oleh orang dewasa dengan istilah nakal. Padahal, sesungguhnya dia berperilaku seperti itu untuk menutupi ketidakmampuan atau kegagalannya.

Bunda yang baik, kita bisa belajar dari kisah Chris Langan. Chris Langan adalah seorang anak jenius sebenarnya. Hal ini dibuktikan dengan skor IQ-nya yang mencapai 165. Bahkan, melebihi IQ-nya Einstein yang skornya 150. Tahukah bunda,  apa profesi Chris Langan saat dewasanya? Profesinya adalah penjaga kuda di Texas. Kok bisa? Pasti bunda bertanya begitu ‘kan!

Karena, sejak kecil Chris Langan mendapatkan stimulus negatif dari orangtuanya. Saat Chris Langan menunjukkan nilai rapornya yang terbaik di kelasnya, orangtuanya merespon biasa saja. Namun, saat Chris Langan melakukan kesalahan, dimarahi habis-habisan dan dihukum. Akibatnya, sense of competence tidak berkembang baik dalam diri Chris Langan. Jadilah, ia seorang under achiever.

Kisah yang sebaliknya saya temui langsung dalam kehidupan sehari-hari. Saya memiliki sahabat yang (mohon maaf) skor IQ-nya dibawah rata-rata. Namun, ia tumbuh menjadi seorang hafizh Al-Qur’an 30 juz. Sahabat saya yang lain, skor IQ-nya pun sama di bawah rata-rata, namun bisa lulus S-2 di kampus negeri dengan predikat sangat baik.

Ternyata rahasianya adalah ibunya yang menjadi motivator luar biasa bagi dua sahabat saya ini. Maka, sampai dewasanya kini, dua sahabat saya ini sangat dekat dengan ibunya. Ada niat dan rencana apapun, selalu ibunya yang jadi rujukan. Jika ibunya merestui, dia lanjutkan. Jika ibunya tidak merestui, tidak dilanjutkan. Maka, saya berpikir betapa luar biasanya ibu dua sahabat saya ini.

Karena itu, bunda yang baik, bersemangatlah menumbuhkan sense of competence pada diri anak-anak bunda. Caranya, pertama, hargai sekecil apapun karya dan prestasi anak-anak. Jangan dilihat karya danprestasinya, melainkan usaha dan kesungguhan anak untuk mencapainya. Prosesyang ditempuh anak inilah yang perlu menjadi perhatian dan mendapat penghargaan dari bunda. Ketika anak mendapatkan penghargaan dari bundanya, maka anak berpikir positif terhadap dirinya. Dia semakin bersemangat dan tertantang untukmemacu dirinya agar mencapai karya dan prestasi lebih baik lagi.

Kedua, berikan peran berarti pada diri anak. Ketika ada pekerjaan atau acara tertentu dirumah, ajaklah anak turut serta dan berikan tanggung jawab pada bagiantertentu. Misalnya, ketika bunda akan menghelat acara syukuran, libatkanlahanak. Bagi anak yang sudah mengerti nilai uang dan biasa bertransaksi,percayakan kepadanya untuk membeli aneka kue yang dibutuhkan. Bagi anak yangsudah SMA atau terampil berbicara di depan publik, berikan dia kesempatan untukmenjadi pembawa acaranya.

Dengan demikian, sense of competence anak akan terus terasah dan berkembang dengan baik. Dan, semoga kau menjadi bunda yang senantiasa dirindukan anak-anakmu.

About Author: admin

Gravatar Image
Menulis semua yang bermanfaat tentang wanita dan keluarga. Menjadi wanita Sejati tanpa harus berada didepan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *