Sebaiknya Hindari Ungkapan Ini Dalam Percakapan

by
ungkapan salah arti

Sembilan ungkapan yang bisa disalahartikan oleh banyak orang saat Anda mengucapkannya, jadi lebih baik dihindari.

Kami sudah semakin bosan dengan pepatah kuno yang mengatakan “mulutmu harimaumu”, tapi ternyata semua itu benar adanya. Dalam percakapan sehari-hari pun—walaupun dengan orang yang sudah Anda kenal—mulut tetap menjadi senjata yang mematikan buat orang, juga Anda. Kami juga tidak ingin Anda menjadi tidak disenangi oleh teman-teman Anda nantinya.

Kepeleset lidah bisa saja terjadi karena ketidaktahuan dalam menggunakan ungkapan atau kata-kata. Jadi, ada baiknya mendalami lebih lanjut semua kata yang akan Anda gunakan, selain melihat lawan bicara Anda sebelumnya. Jangan sampai kita terlalu fokus dengan hal-hal yang akan kita bicarakan hingga lupa orang yang kita ajak bicara.

Untuk tetap menjaga hubungan baik dalam perbincangan, ada baiknya tidak menggunakan ungkapan-ungkapan yang sebenarnya bisa menimbulkan kesalahan pengartian. Kami punya daftarnya.

1. “Capek ya.”

Orang yang capek sangat tidak menarik dan enak untuk dilihat. Mata mereka sayu dan tidak segar, rambut berantakan, dan biasanya tidak fokus, serta mudah tersinggung. Kalau Anda bilang dia sangat capek dan ternyata tersinggung, berarti kata-kata itu sedang tidak ingin didengarnya.

Sebaiknya tanyakan apa dia benar-benar baik-baik saja. Orang-orang akan tahu kalau Anda bertanya seperti itu berarti Anda benar-benar mau membantunya. Dengan begitu, orang yang Anda tanyai akan lebih terbuka untuk berbagi yang sedang dia rasakan.

2. “Selalu” atau “Tidak pernah”

Ini menjadi dua ungkapan yang sangat menghakimi orang, apalagi kalau penghakiman itu didasari oleh perbuatan yang buruk. Seolah-olah orang yang Anda ajak bicara benar-benar selalu melakukan kesalahan itu atau tidak pernah berbuat baik dalam hidupnya.

Alih-alih mengatakan itu, ada baiknya memilih ungkapan yang lebih halus, seperti menurunkan frekuensi menjadi “biasa melakukan ini” atau “pernah melakukan ini.”

3. “Kan Saya udah pernah bilang…”

Ungkapan ini sangat menyebalkan. Seolah-olah Anda bisa membaca masa depan dan meramalkan apa yang akan terjadi nanti sesuai dengan kata-kata Anda. Jangan pernah sekali pun mengucapkan kata-kata ini kepada orang lain.

Kalau memang Anda mau mengulang pesan yang sudah pernah diucapkan sebelumnya, buat pesan tersebut lebih jelas dengan kata-kata yang lebih menarik dan lebih mudah diingat. Bisa saja, pilihan kata sebelumnya terlalu sulit dan itu jadi salah Anda.

4. “Semoga berhasil”

Anda merasa kata-kata ini semagai bentuk perhatian untuk orang lain? Sayang sekali, Anda salah. Ungkapan “semoga berhasil” sebenarnya malahan mendoakan keberuntungan berpihak kepada lawan bicara Anda.

Lebih baik mempercayakan kepada kemampuan lawan bicara Anda dan berharap dia bisa mengeluarkan segala kemampuannya dalam melakukan semuanya. Sekarang Anda tidak lagi merendahkan lawan bicara Anda.

5. “Terserah”

Walaupun pada akhirnya tidak diterima oleh lawan bicara Anda, saran Anda sangat penting untuk orang yang menanyakannya. Saat orang memberikan beberapa opini, itu sama saja menunjukkan kepedulian terhadap orang yang bertanya. Jadi, jangan pernah bilang terserah.

6. “Setidaknya saya tidak…”

Kalau Anda terus mencari dalih pembenaran, orang akan percaya kalau Anda bukanlah orang yang bisa diajak berdiskusi dan berkompromi. Dengan begitu, orang-orang akan menjauhi Anda dan berbicara seperlunya.

Kalau memang Anda sudah ditetapkan bersalah, ucapkanlah kata maaf. Mengakui kesalahan lebih bisa diterima orang dibanding menjadi pembenaran dari yang sudah Anda lakukan.

7. “Kamu kurusan”

Bukan, ini bukan sebuah pujian. Mengatakan perubahan yang terjadi kepada seseorang sama saja menilai keburukan orang di masa lalu. Dibanding mengatakan kata-kata yang tidak mengenakan itu, lebih baik memilih sebuah pujian tentang yang Anda lihat sekarang. “Kamu keren ya atau baju yang kamu kenakan bagus.” Orang akan lebih senang dibilang seperti itu.

8. “Kamu terlalu baik untuknya”

Tidak ada yang terlalu baik untuk orang lain. Jika Anda menilainya seperti itu, sama saja Anda menganggap selera lawan bicara Anda buruk. Tampaknya itu jadi bukan pujian saat melakukan percakapan.

Kalau memang lawan bicara Anda baru saja kehilangan seseorang yang dia sayanginya atau kesempatan emasnya, bilang saja bukan dia yang akan kehilangan, melainkan orang-orang yang melepasnya.

9. “Anda terlihat keren untuk umuran Anda”

Saat Anda mengatakan itu kepada orang lain, berarti Anda menilai sebenarnya untuk seumuran lawan bicara Anda seharusnya orang biasa tidak bisa melakukan yang bisa dilakukannya. Sempit sekali pemikiran Anda jadinya. Kalau memang mau memuji orang, sebaiknya gunakan kata-kata sederhana tanpa menambahkan keterangan yang sepertinya tidak perlu.

“Anda keren” atau “Anda hebat” sepertinya sudah cukup mewakili segala macam pujian di dunia ini.

About Author: admin

Gravatar Image
Menulis semua yang bermanfaat tentang wanita dan keluarga. Menjadi wanita Sejati tanpa harus berada didepan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *