Mengatasi Perilaku Anak Yang Mencuri

by
Anak Yang Mencuri
via google

Siang itu, seorang Ayah membentak dan memarahi anaknya habis-habisan. Bahkan, ia juga memukul telapak tangan anaknya dua puluh kali dengan rotan karena untuk kesekian kalinya anaknya mencuri barang milik temannya. Bocah berumur sepuluh tahun itupun menangis histeris.

Ayah-Bunda, apakah dengan cara demikian perilaku negatif anak akan berubah dan tidak mencuri lagi? Belum tentu. Justru, bisa jadi perilaku anak akan semakin menjadi-jadi sebagai bentuk perlawanan dan pemberontakan atas apa yang diterimanya. Lantas, jika cara demikian kecil kemungkinan berhasil mengubah perilaku negatif anak, mengapa banyak di antara kita yang kerap melakukannya? Mari kita melakukan introspeksi diri. Jangan-jangan perilaku mencuri pada anak merupakan hasil bentukkan atas apa yang kita lakukan kepada anak secara tidak sadar.

Ayah-Bunda, setiap orangtua tentu tidak ingin anaknya melakukan perilaku mencuri. Karena, siapapun sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan tercela. Akan tetapi, terkadang tanpa disadari, para orangtua justru melakukan hal-hal yang kemudian memunculkan perilaku mencuri pada anaknya. Lho kok bisa? Bisa. Seorang anak tidak akan mencuri kalau tidak ada contoh yang dilihatnya atau pemicunya.

Salah satu penyebab munculnya perilaku mencuri pada diri anak yang sering tidak disadari oleh para orangtua adalah orangtua tidak atau kurang menghargai apa-apa yang menjadi hak milik anak. Seringkali orangtua ketika memerlukan barang-barang milik anak, langsung mengambilnya saja tanpa meminjam atau meminta izin kepada anak. Mungkin anggapannya, ‘kan yang membeli barang tersebut saya, maka boleh saja saya menggunakannya kapan saja saya butuhkan.

Di sinilah letak kesalahannya. Betul bahwa barang-barang yang dimiliki oleh anak dibeli dengan menggunakan uang orangtua. Akan tetapi, orangtua sudah memberikannya kepada anak. Maka, statusnya bukan lagi milik orangtua, tetapi menjadi milik anak. Karena itu, orangtua harus mampu menghargai hak milik anaknya.

Ketika orangtua tidak menunjukkan sikap penghargaan ini, maka anak menjadi tidak memahami konsep hak milik. Ketika menginginkan suatu barang milik temannya, ia akan langsung mengambilnya tanpa meminjamnya terlebih dahulu, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Karena, anak melihat perilaku orangtuanya.

“Ayah-Bundaku tidak pernah meminjam atau meminta izin untuk menggunakan barang-barang milikku, berarti aku pun boleh menggunakan barang-barang milik teman-temanku tanpa meminjam atau izin, bahkan boleh juga memilikinya.” Kira-kira seperti inilah pola pikir yang akan terbentuk dalam diri anak.

Sebaliknya, jika orangtua membiasakan menghargai hak milik anaknya, maka anak pun akan mampu menghargai hak milik orang lain. Karena itu, setiap kali membutuhkan barang-barang milik anak, katakan kepadanya, “Ayah-Bunda, pinjam dulu sebentar ya.”

Dengan demikian, anak akan memahami konsep hak milik. Ia akan membuat konsep pikiran bahwa apa-apa yang bukan menjadi miliknya, harus meminjam dan meminta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya jika mau menggunakannya. Dari sini akan tumbuh sikap menghormati hak milik orang lain pada diri anak.

Selain faktor di atas, bisa juga seorang anak mencuri disebabkan menginginkan sesuatu, sementara orangtuanya tidak mampu membelikannya. Kecenderungan setiap anak adalah bermain, baik dengan alat maupun tanpa alat permainan. Dalam hal ini, ketika teman-temannya memiliki mainan baru, sementara dirinya tidak memiliki mainan tersebut karena orangtuanya tidak mampu membelikannya, ditambah lagi teman-temannya memperolok-oloknya karena tidak memiliki mainan tersebut, hal ini bisa saja jadi pemicu bagi si anak untuk mencuri mainan milik temannya.

Dalam menghadapi kasus semacam ini, orangtua harus bijak. Karena, jika anak ditekan, ia bisa semakin rendah diri. Cara yang tepat adalah dengan memberikan kasih sayang yang tulus kepada anak sebagai pengganti mainan tersebut. Biarkan anak merasakan bahwa meski orangtuanya tidak mampu membelikan mainan seperti milik temannya, tetapi orangtuanya sangat menyayanginya.

Ketika anak sudah merasakan kasih sayang ini, barulah berikan pemahaman bahwa mengambil mainan milik teman adalah perbuatan tercela. Minta ia tidak mengulanginya lagi. Katakan kepadanya bahwa Anda akan memberikan mainan lain yang tidak kalah asyiknya. Karena itu, Anda bisa menyiapkan sebuah mainan yang murah, bahkan gratis, seperti mainan tradisional yang bisa dibuat dari bahan-bahan alam, namun tetap asyik bagi anak Anda. Selamat mengasihi anak-anak Anda!

About Author: admin

Gravatar Image
Menulis semua yang bermanfaat tentang wanita dan keluarga. Menjadi wanita Sejati tanpa harus berada didepan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *